|
| |
[ News ] [ Tentang Lablink ] [ Air ] [ Hutan ] [ Pertanian ]
[ Home ] [ Up ] [ Sejarah Pertanian ] [ Budidaya Pertanian ] [ Sistem Pertanian Berkelanjutan ] [ Biologi ]
| Pertanian
Berkelanjutan |
Definisi komprehensif bagi
pertanian berkelanjutan meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosioekonomi, yang
direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan
kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan
pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input
maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan
dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.
Salah satu pendekatan
pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input) secara khusus ditulis oleh
Franklin H. King dalam bukunya Farmers of Forty Centuries. King membandingkan penggunaan
input minimal dan pendekatan berkelanjutan pada pertanian daratan Timur (oriental) dengan
apa yang dia lihat sebagai kesalahan metoda yang digunakan petani Amerika. Gagasan King
adalah bahwa sistem pertanian memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan
regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal.
Baru-baru ini,
Undang-undang Produktivitas Pertanian Amerika, yang merupakan bagian dari Undang-undang
Keamanan Pangan 1985, menyediakan kewenangan untuk melaksanakan program riset dan
pendidikan pada sistem pertanian alternatif -yang kemudian dikenal sebagai pertanian
berkelanjutan dengan input minimal (Low Input Sustainable Agriculture (LISA)). Pada bulan
Desember 1987, Kongres Amerika menyetujui US $ 3,9 juta untuk memulai pekerjaan tersebut
atas dasar undang-undang Keamanan Pangan. Undang-undang tersebut memberikan mandat untuk
melakukan investigasi ilmiah pada a) peningkatan produktivitas pertanian, b) produktivitas
lahan sentra produksi, c) mengurangi erosi tanah, kehilangan air dan nutrisi, dan d)
melakukan konservasi sumberdaya natural dan energi.
Petani
Amerika saat ini sedang mencari sumberdaya yang efisien, biaya lebih rendah, dan
sistem-sistem produksi yang lebih menguntungkan. Siapapun yang bergerak di bidang
pertanian seharusnya berbagi kepedulian yang lebih luas pada masyarakat dalam mendukung
lingkungan yang bersih dan nyaman. Selama sepuluh tahun terakhir, telah terjadi paradigma
yang mengangkat masyarakat pertanian dari kondisi yang mengharuskan produktivitas lebih
tinggi menuju suatu kondisi masyarakat yang peduli pada keberlanjutan. Hal ini dirasakan
sebagai suatu kesalahan bahwa produktivitas yang tinggi dari kegiatan pertanian
konvensional telah menimbulkan biaya kerusakan yang cukup siginifikan terhadap lingkungan
alam dan disrupsi masalah sosial.
Dalam usaha mengalihkan
konsekuensi-konsekuensi negatif pertanian konvensional, beberapa format sistem pertanian
berkelanjutan yang berbeda telah direkomendasikan sebagai alternatif-alternatif untuk
mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi dan aman
secara lingkungan. Kepentingan dalam sistem pertanian alternatif ini sering dimotivasi
dengan suatu keinginan untuk menurunkan tingkat kesehatan lingkungan dan kerusakan
lingkungan dan sebuah komitmen terhadap manajemen sumberdaya alam yang berkeadilan. Tetapi
kriteria yang paling penting untuk kebanyakan petani dalam mempertimbangkan suatu
perubahan usaha tani adalah keingingan memperoleh hasil yang layak secara ekonomi. Adopsi
terhadap metode pertanian alternatif yang lebih lebar ini membutuhkan bahwa metode
tersebut sedikitnya sama kualitasnya dalam memperoleh keuntungan dengan metode
konvensional atau memiliki keuntungan-keuntungan non-keuangan yang signifikan, seperti
sebagai usaha menjaga penurunan kualitas sumberdaya air dan tanah secara cepat.
Riset dan pendidikan
bergerak terbatas diantara para peneliti atau mahasiswa. Sebagaimana seorang mahasiswa
menjadi lebih baik diberikan pendidikan mengenai pengetahuan praktis pertanian
berkelanjutan, lebih memiliki minat dan dana akan ditingkatkan untuk mendukung riset
selanjutnya. Jaminan peneliti dan ketersediaan dana penelitian ini akan lebih memberikan
harapan untuk meningkatkan minat pada pendidikan yang memandu riset selanjutnya secara
umum. Pooling pendapat yang dilakukan mahasiswa di sejumlah fakultas seluruh Amerika
menunjukkan ketertarikan pada pertanian berkelanjutan. Kebanyakan mereka mempertanyakan
masalah-masalah pertanian berkelanjutan sebagai sebuah pemikiran yang tidak dapat diadopsi
dalam program agroekologi. Mereka memberikan komentar bahwa penurunan dampak lingkungan
akibat usaha pertanian berkelanjutan sebagai sebuah keuntungan yang besar dari
meninggalkan usaha pertanian konvensional. Lebih banyak riset yang dilakukan pada
pertanian berkelanjutan ini, program-program pendidikan yang lebih baik akan dapat
dilaksanakan di wilayah ini.
Ketika perubahan dari
kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan dilaksanakan, perubahan sosial
dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang
menurun pula pada hubungan kerja terhadap mereka yang selama ini terlibat dan mendapatkan
manfaat dari pertanian konvensional. Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang
dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian
mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat
menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi
negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap
sosial tersebut sebab insentif-insentif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat
ini.
Sumber: University of Wyoming, Agroecology
1000, T.J. Drommond, Stacy Dysart, Andy Olson
- |
| |
| |
|