| Sistem ladang
merupakan sistem pertanian yang paling primitif. Suatu sistem peralihan dari tahap budaya
pengumpul ke tahap budaya penanam. Pengolahan tanahnya sangat minimum, produktivitas
bergantung kepada ketersediaan lapisan humus yang ada, yang terjadi karena sistem hutan.
Sistem ini pada umumnya terdapat di daerah yang berpenduduk sedikit dengan ketersediaan
lahan tak terbatas. Tanaman yang diusahakan umumnya tanaman pangan, seperti padi darat,
jagung, atau umbi-umbian. Sistem
tegal pekarangan berkembang di lahan-lahan kering, yang jauh dari
sumber-sumber air yang cukup. Sistem ini diusahakan orang setelah mereka menetap lama di
wilayah itu, walupun demikian tingkatan pengusahaannya rendah. Pengelolaan tegal pada
umumnya jarang menggunakan tenaga yang intensif, jarang ada yang menggunakan tenaga hewan.
Tanaman-tanaman yang diusahakan terutama tanaman tanaman yang tahan kekeringan dan
pohon-pohonan.
Sistem sawah, merupakan
teknik budidaya yang tinggi, terutama dalam pengolahan tanah dan pengelolaan air, sehingga
tercapai stabilitas biologi yang tinggi, sehingga kesuburan tanah dapat dipertahankan. Ini
dicapai dengan sistem pengairan yang sinambung dan drainase yang baik. Sistem sawah
merupakan potensi besar untuk produksi pangan, baik padi maupun palawija. Di beberapa
daerah, pertanian tebu dan tembakau menggunakan sistem sawah.
Sistem perkebunan, baik
perkebunan rakyat maupun perkebunan besar (estate) yang dulu milik swasta asing dan
sekarang kebanyakan perusahaan negara, berkembang karena kebutuhan tanaman ekspor. Dimulai
dengan bahan-bahan ekspor seperti karet, kopi, teh dan coklat yang
merupakan hasil utama, sampai sekarang sistem perkebunan berkembang dengan manajemen yang
industri pertanian. |