Banner Lablink.jpg (26353 bytes)

About Lablink

Hutan Air Pertanian Satwa Liar

 

  Bentuk Bentuk Agroforestri

Beberapa model Agroforestri yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut :

  1. "Agrisilvopastur ", yaitu penggunaan lahan secara sadar dan dengan pertimbangan masak untuk memproduksi sekaligus hasil-hasil pertanian dan kehutanan.
  2. "Sylvopastoral system ", yaitu suatu sistem pengelolaan lahan hutan untuk menghasilkan kayu dan memelihara ternak.
  3. "Agrosylvo-pastoral system ", yaitu suatu sistem pengelolaan lahan hutan untuk memproduksi hasil pertanian dan kehutanan secara bersamaan, dan sekaligus untuk memelihara hewan ternak.
  4. "Multipurpose forest ", yaitu sistem pengelolaan dan penanaman berbagai jenis kayu, yang tidak hanya untuk hasil kayunya, akan tetapi juga daun-daunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan manusia, ataupun pakan ternak.

Teknologi Agroforestry dikawasan hutan di Jawa dilaksanakan dengan menggunakan bentuk Tumpangsari. Inmas Tumpangsari, dan terakhir Tumpangsari Selama Daur Tanaman Pokok dalam Perhutanan Sosial.

Tumpangsari berarti menduduki lahan hutan atau ikut memanfaatkan lahan hutan untuk sementara waktu adalah tanaman pertanian , yaitu pada tanaman hutan muda. Perbedaan dengan Inmas Tumpangsari dalam hal penerapan teknolologi pertanian yang digunakan, mencakup penggunaan teknologi sebagai berikut :

  1. Penggunaan bibit unggul tanaman pertanian.
  2. Perbaikanpengolahan dan konservasi tanah.
  3. Penggunaan pupuk.
  4. Pemilihan waktu yang tepat untuk penanaman dan pemberian pupuk, sehubungan dengan waktunya turun hujan.

Pengembangan teknologi Agroforestry dengan bentuk Tumpangsasi dan Imas Tumpangsari dikategorikan bersipat sementara sedangkan sistem Tumpangsari Selama Daur Tanaman Pokok dalam Perhutanan Sosial terjadi adanya kesinambungan produksi tanaman pertanian selama daur tanaman pokok.

Teknologi selama daur merupakan bagian dari program Perhutanan Sosial. Dalam pelaksanaan perhutanan ada dua kegiatan pokok :

a). Pelaksanaan Agroforestry selama daur.

b). Pembinaan dan pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH)

Pembentukan KTH dimaksudkan sebagai wadah untuk menyalurkan informasi, baik dari dari lembaga Instansi terkait, maupun dari petani, berupa usul-usul untuk melancarkan pekerjaan. Dengan lain perkataan, KTH dimaksudkan untuk menyalurkan informasi secara "top down" maupun "botton up"

Perbedaan-perbedaan yang penting dengan tumpangsari biasa, elain jangka waktu kontrak,dalam tumpangsari selamadaur adalah :

a). Jarak tanam tanaman pokok dapat lebih lebar

b). Selain tanaman pokok dapat ditanam :

  • Tanaman pertanian semusim selama kurang dari 4 tahun ; untuk tahun ke-empat dan selanjutnya (diperkirakan tajuk tanaman pokok sudah menutup), disarankan tanaman-tanaman yang tanhan naungan tetapi ekonomis cukup tinggi, seperti kapulaga dan empon-empon.
  • Tanaman pengisi berupa tanaman keras, yang ditanam dilarikan tanaman pokok, bermanfaat bagi pesangem/masyarakat, dan jumlahnya sebanyak 20% dari jumlah tanaman pokok pada akhir rotasi.
  • Tanaman sisipan berupa tanaman perkebunan/pertanian, yang ditanam dikiri-kanan tanaman sela, yang bermanfaat bagi pesanggem/masyarakat, dan jumlahnya sebanyak 20% dari tanaman pokok pada akhir rotasi. Bila tanaman sisipan berupa tanaman pertanian/perkebunan, maka tanaman pengisi harus merupakan tanaman hutan, atau sebaliknya.
  • Tanaman tepi, dibuat disekeliling tanaman, di tepi alur dan jalan pemeriksaan, berupa pohon buah-buahan, seperti durian, petai picung, mangga dll.
  • Tanaman pagar, dibuat disekeliling tanaman, ditepi alur dan jalan pemeriksaan. Biasanya tanaman secang.
  • Tanaman sela diantara tanaman pokok untuk mencegah erosi dan meningkatkan kesuburab tanah, seperti lamtorogung, (yang tahan kutu loncat), kaliandra, gamal, flemingia, akan tetapi juga rumput-rumputan seperti setaria, hamilton, dan juga nenas.
 

Send mail to webmaster@lablink.or.id  with questions or comments about this web site.
Last modified: June 29, 2001